Kesukaan saya bila sedang menunggu sesuatu atau sedang tidak ada hal yang bisa dilakukan adalah duduk di tepi kolam memandangi air. Mengamati helai daun mengambang di atas permukaan air, menonton fauna air beraktifitas, serta mengikuti riak gelombang yang ditimbulkannya. Itulah semua dinamika kehidupan kolam.
Saat angin lenyap entah kemana, fauna air nyaris tanpa gerakan, maka permukaan kolam pun demikian tenangnya. Helai daun tak beranjak dari tempatnya karena tak ada lagi riak gelombang yang membawanya. Sepi seakan memagut, itu yang ditulis Chairil Anwar saat menggambarkan kesunyian.
Anda suka yang mana ? Air yang bergelombang atau air yang tenang ?
Di tempat kerja saya dulu, suasana penuh gelombang biasanya terasa pada saat perusahaan sedang melakukan perubahan, baik perubahan skala kecil atau besar-besaran melalui proses transformasi. Sedangkan suasana tenang adalah pada saat kondisi sudah tertata mapan, tinggal kegiatan rutin operasional untuk mencapai target yang ditetapkan. Sebenarnya kondisi yang betul-betul tenang tidak ada, cuma riaknya relatif kecil.
Teman-teman saya yang sedang mengejar peningkatan karir ada dua jenis. Jenis pertama adalah yang menunggu kondisi tenang untuk mulai beraksi, sedangkan jenis kedua adalah yang justru memanfaatkan kondisi bergelombang untuk bergerak ke posisi yang lebih baik. Kalau anda termasuk jenis yang mana ?
Di dunia bisnis terjadi juga hal yang sama. Coba saja anda amati apa saja yang terjadi pada dua kondisi di atas. Amati juga bagaimana para pelaku bisnis besar bermain pada kondisi-kondisi tersebut. Tentu tidak mudah untuk mengetahui semuanya, karena banyak juga yang bergerilya “di bawah tanah”. Tapi lupakan saja yang tak terlihat, masih banyak yang bisa dilacak pergerakannya.
Mengamati permukaan air kolam, saya serasa mendapatkan jawabannya. Helai daun bisa berpindah di saat ada gelombang. Makin besar gelombang, makin jauh pergerakannya. Meskipun ia harus melalui banyak lontaran dan hempasan.
Lalu bagaimana agar helai daun bergerak di saat air tenang ? Anda bisa meniupnya atau anda dorong dengan sebatang ranting ke arah mana yang anda kehendaki. Jelas dibutuhkan daya tambahan dari luar, namun pergerakannya relatif sedikit hempasannya, lebih terkendali dan arahnya lebih mudah ditentukan.
Jika anda sehelai daun tersebut, kondisi mana yang anda pilih ?
Kebanyakan orang memilih kondisi tenang. Biarpun pergerakannya perlahan tapi lebih bisa dipastikan. Tidak mengapa harus membayarnya dengan ketekunan berpuluh tahun, mengayuh biduknya dengan penuh kesabaran, asalkan tidak harus terbanting-banting.
Jika badai datang, diam dahulu sejenak hingga kondisi mereda. Kalimat yang digunakan biasanya :”Wah, masih kacau-balau nih ! Saya tunggu agak tenang untuk bergerak !” Atau “ Nanti kalau situasinya sudah stabil dan mapan, barulah saya mulai bergerak !”
Tapi tidak demikian dengan “si penunggang gelombang”. Ibarat seorang peselancar, ia justru memanfaatkan gelombang yang datang. Dengan bekal ketegaran hati, kelenturan tubuh, kecermatan menentukan arah dan determinasinya yang mantap, ia bak selebritis berlenggang tanpa saingan. Karena yang lainnya asyik menunggu dan menonton .
Jika anda ingin memiliki kemampuan seperti si penunggang gelombang, sekaranglah saatnya anda berlatih menempa diri terus menerus. Jangan hindari ombak-ombak kecil yang menghadang, karena dari sanalah anda memupuk kekuatan dan ketegaran. Terus siaga setiap saat gelombang harapan datang.
Kadang anda tidak membutuhkan banyak gelombang. Cukup satu gelombang besar yang datang, dan anda dalam posisi siap jiwa raga menungganginya. Maka itulah kendaraan anda sampai ke seberang : tanah impian yang anda rindukan siang dan malam.
Pilihan ada di tangan Anda !


wah dalem banget makna di dalam tulisannya,,,,
gitu ya mas
sekedar memberi alternatif untuk dicoba
makasih kunjungannya
Ngiring ngiuhan heula Kang. Engke Siang ameng deui ka dieu nya
Duh nembe kabujeng kadieu deui yeuh Kang
Belom bisa “Brutal” heuheuheu… heuheu…. Nggak tau ya…. kurang ambisius kali ya?
====
Kejelian untuk memanfaatkan keadaan setidaknya memang meminimalisir energi yang harus dikeluarkan. Namun jika terpeleset resiko yang membentang di depan pun bisa kecemplung ke sumur yang dalam. Masih untuk kalo ada yang bisa nolong. Coba kalo kecemplungnya ke jurang terus hanyut. Parah!
Namun, seni bermain di keramaian bisa lebih indah.
====
Adapun bermain di dalam suasana tenang walaupun butuh energi ekstra, resiko tentu lebih aman jika fokus kita bener-bener terkonsentrasi di sana.
====
Saya suka yang mana ya? Sementara ini masih suka kedamaian Pak
sebenarnya saya juga sarua jeung Akang, cuma keadaan sering melontarkan saya ke atas gelombang
terpaksa deh belajar menunggang gelombang, daripada tenggelam
mangga we Kang…
Kalo dlm kerjaan kemarin lia sepertinya memanfaatkan gelombang pak.
soalnya disaat itu itulah kita sebagai yang “belum pengalaman” jika tiba2 mengeluarkan ide akan didengar (jika memang bagus).. dan akhirnya memberikan manfaat kepada kita dan juga kepada perusahaan… (naik pangkat dll)
kalo disaat posisi tenang.. semua berjalan normal….. sesuatu dinilai karena memang seharusnya dinilai… lainnya hal nya disaat gelombang..
tapi disaat gelombang itu seperti yg pak hery bilang harus benar2 cermat dan sedia alat.. kalo nggak yang tenggelam
kalau utk di kantor, sebenarnya lebih mudah dan lebih cepat dalam posisi bergelombang. Bak logam atau air dipanaskan, molekul bergolak akan menimbulkan banyak ruang kosong. Kalau cukup jeli, tangkas, dan berani resiko, peluangnya lebih besar.
saya suka dengan kalimat penunggang gelombang….tapi ada satu hal yang perlu di garis bawahi…si penunggang itu juga menantikan gelombang yang memang bagus dan baik untuk dia tunggangi tidak asal gelombang dia pilih toh pa’e
makasih tambahan garis bawahnya mas Eko
emang jangan asal tunggangin aja, liat-liat dulu apa dan kayak apa tuh yang ditunggangin, agar tidak kecebur ke dalam gelombang prahara
jiah pa’e….prahara,,,
prahara cinte ye….
sama” pa’e jika tambahannya bermanfaat….
kan udah ada contoh yg heboh tuh, hehe…
hidup memang penuh banyak peluang…. sekaligus penuh banyak resiko…. dan semua pilihan ada di tangan kita ..^^
:cendol untuk anda
dalam kehidupan nyata, air tenang menandakan titik akhir dari keemasan seseorang, untuk naik lagi, maka seseorang perlu gelombang baru sebagai pengungkitnya.
enggak bisa tenang2 sambil naik Kang ?
ada juga tuh yg diam2 tahu2 udah di atas, pake jurus apa ya ?