“Buat saya ndak masalah kalau orang ingin menyaingi saya, tapi caranya itu lho ! Usaha ini saya bangun bukan dalam semalam, sudah cukup panjang perjalanan yang saya tempuh untuk menghidupkan produk Kepepet ini. Entah sudah berapa jerigen keringat menetes, entah sudah berapa galon kentut terhembus…!”
Tampak sekali kejengkelan di wajah Pak Bejo. Rasa jengkel yang memuncak membuat Pak Bejo tidak tahan duduk diam di ruangannya. Sengaja dia mendatangi ruang kerja karyawan untuk menyampaikan apa yang menjadi kerisauannya. Tanpa sadar dia mondar-mandir di ruang kerja yang cukup luas itu, di hadapan dua karyawannya yang setia mendengarkan keluh-kesahnya.
Seorang karyawan lain yang baru datang melihat gelagat cuaca yang kurang baik, maka tanpa ba maupun bu segera mengambil tempat duduk di dekat dua karyawan lainnya. Terlihat dia penasaran ingin tahu masalahnya tapi tidak berani bertanya. Perlahan dia menjawil seorang rekan kerjanya.
“ Ada apa to mas ? Kok bos kelihatannya kesal sekali ? “
“ Sst…. sudah dengarkan saja dulu !” sang rekan memperingatkan, “ Kalau mau tahu masalahnya, sampean tanya dulu aja ke Kang Erdien di ruangannya. Jangan bikin ribut disini !”
“Oh, ya ya ya…. !” Segera karyawan yang bertanya tadi bergegas pergi meninggalkan ruangan.
Setelah cukup lama Pak Bejo tidak berkata-kata lagi, hanya berdiri mematung menghadap jendela, salah satu dari dua orang karyawan yang masih tinggal tadi memberanikan diri bertanya.
“ Mohon maaf Pak ! Sebenarnya apa tepatnya yang sudah dilakukan pesaing kita itu Pak, kemungkinan kami bisa ikut mencarikan jalan keluarnya”.
“Hmm… saya memang ingin mengatakannya kepada kalian”. Pak Bejo diam sejenak, lalu melanjutkan, “ Paijo bin Titan. Sampean pernah dengar kan ? “ Dua karyawannya mengangguk. “ Dia itu memang sudah lama tidak suka sama saya. Ndak masalah, itu haknya dia. Tapi apa yang dilakukannya terakhir ini sudah keterlaluan.”
“ Terang-terangan dia berusaha menjegal produk Kepepet milik kita. Di berbagai forum, baik forum maya maupun nyata, beragam cara dia lakukan untuk mengesankan bahwa produk kita itu produk junk yang hanya merugikan pelanggan. Darimana dia bisa menyimpulkan seperti itu ?”
“Dan bukan itu saja,” lanjut Pak Bejo setelah menghela napas sejenak, “ Secara diam-diam dia juga berusaha mendekati para pelanggan kita, berusaha menjelek-jelekan produk kita, dan ujung-ujungnya menawarkan produk alternatif sebagai penggantinya. Coba pikir, apakah itu cara bersaing yang sehat ?”
“ Wah, sudah keterlaluan kalau begitu Pak ! Tidak boleh didiamkan. Kelangsungan hidup produk kita taruhannya. Termasuk kami-kami ini yang bekerja bersama Bapak “, seorang karyawan cepat memberikan reaksi.
Karyawan satunya lagi, setelah berpikir sejenak, menyampaikan sarannya. “ Boleh saya usul, Pak ?”
“ Silakan ! Apa itu ?” Pak Bejo tampak tertarik.
“ Sebelum bertindak lebih jauh, bagaimana kalau kita coba minta pendapat dulu kepada pihak yang kita anggap cukup bijak menangani masalah ini ?”.
Pak Bejo manggut-manggut. “ Kira-kira siapa yang menurut sampean layak untuk dimintai saran ?”
“ Kita tanya saja kepada pak Alim, Pak !”
“ Ide bagus, saya setuju ! Tapi saya coba tanyakan dulu, apakah beliau bisa menyisihkan waktunya yang amat berharga untuk menjawab pertanyaan kita ini” (berlanjut di blognya mas Fadly Muin pada Kisah Seorang Blogger Episode 8“.
“ O ya, untuk second opinion, jika ada kesempatan saya juga akan mencoba bertanya kepada mas Joko Santoso . Barangkali saja beliau juga bersedia menuliskan pendapatnya di kisah lanjutan yang sama”.
Pak Bejo menyalami dua karyawannya. Terbayang harapan besar di wajahnya.


Memang sih mas, dunia bisnis itu kejam, bisa menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya. Dunia ini sudah edan (gila) kalau nggak nge-dan nggak kebagian. Namun, prinsip menabur yang kebaikan akan menuai kebaikan, tetap di jalan Illahi. So, biarkan pasar menilai sendiri
setuju mas Joko, silakan dituangkan ke dalam artikel kisah lanjutannya
Oke, mas saya lanjutin. Pada awalnya saya nggak ngerti maksud anda, ternyata setelah saya telusuri baru saya tahu, wkwkwkk
hehehe…. sengaja saya masukkan ke alur cerita, biar mas Joko bingung dulu.
Ok deh, utk tokoh yg akan dimintai pendapat terserah mas Joko, mau pake tokoh mas Joko langsung (nyambung artikel di atas) atau mau membuat nama tokoh lain (nanti saya yg menyesuaikan).
Wah.. menang lagi tuh kontesnya, selamat deh… anda memang hebat
karakter pak Bejo cukup rumit juga yah.. tunggu lanjutan ceritanya yah..
enaknya di buat keos atau win-win?
gimana gak rumit lha wong tiap blogger membangun karakter sendiri2
kalau menyesuaikan dgn mas fadly sih win-win, tapi kalau dibikin keos akan lebih menggigit, hehe….
hihihi yang saya suka dari posting ini : “sudah berapa galon kentut terhembus”
gara2 kata2 tersebut tiap saya mau minum air mineral mesti ngikik.
seneng baca artikel disini, Sersan alias serius santai….
hati-hati, ngikiknya jalan dilihat orang
wahhh lia udah ketinggalan banget ya pak ceritanya.. heheheh
kalo lia lebih suka win win la pak… (menunggu lanjutan cerita pak hery
)
selamat berakhir pekan ^_^
biasanya itu ending cerita Lia, kayaknya ini masih jauh dari ending cerita
Hahaha… keren Kang, Ada yang Bau-Bau segala
====
Di antara manusia memang kadang menghalalkan segala cara untuk keuntungan diri sendiri serta menjatuhkan orang lain. Hasud tuh namanya ya ang. Orang seperti itu segala kebaikannya pasti hancur karena kehasudannya
kita lihat, bagaimana blog selanjutnya memainkan Kang
[...] menghadapi tantangan tersebut demi kemajuan bisnis yang dijalankannya? Tafadhal Sobat tengok di Suarakelana Berbisik atau di Motivasi Sederhana-nya Mas Agung Prasetyo. AKPC_IDS += "556,"; Jika Sobat mau dapat [...]
Wow, sebuah ceritaa…Nice
iya mas, cerita bersambung dari blog ke blog
lanjut kang ke episode 8, semakin menarik nih
betul, sudah mulai masuk ke konflik
harus disambung2 nih postingan pa Bejo ini, biar kelihatan utuh.
harus ditelusur dari hulu Kang..
[...] menghadapi tantangan tersebut demi kemajuan bisnis yang dijalankannya? Tafadhal Sobat tengok di Suarakelana Berbisik atau di Motivasi Sederhana-nya Mas Agung [...]