Bagi seorang blogger, kemampuan menulis merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Khususnya untuk blog yang isinya di dominasi tulisan, kemampuan menulis harus terus diasah. Minimal dibutuhkan kemampuan memaparkan ide yang akan disajikan ke pembaca.
Setiap orang memiliki konsepnya sendiri tentang menulis, seperti juga setiap pembaca mempunyai pendapat masing-masing tentang tulisan yang bagus. Ada yang senang tulisan to the point, ada juga yang suka tulisan indah menyentuh jiwa. Masing-masing memiliki idealisme tentang bagaimana seyogyanya sesuatu hal disampaikan lewat tulisan.
Saya pribadi memiliki konsep ideal dalam menulis. Konsep ini saya upayakan bisa terwujud tiap kali saya menulis, meskipun tidak selalu berhasil tepat seperti yang saya inginkan. Konsep seperti apa yang saya gunakan ? Yuk, kita lihat bersama.
Setiap kali menulis, selalu saya upayakan ada yang hadir disana. Siapa itu ? Tuyulkah ? Atau malah pak RT yang harus hadir ? O, bukan itu tentunya! Menulis bagi saya berarti menghadirkan empat hal.
Menghadirkan wacana.
Menurut Lull (1998), wacana adalah cara objek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas. Setiap tulisan pastinya ingin memenuhi hal ini, berisi sesuatu yang menarik bukan sekedar tulisan kosong melompong. Tulisan saya pun diharapkan demikian.
Menghadirkan makna.
Makna disini saya maksudkan lebih ke arah hikmah, bukan sekedar memiliki arti biasa. Jadi lebih dalam lagi menyentuh kepada hal-hal yang lebih hakiki. Tulisan yang bertemakan motivasi dan inspirasi kehidupan mestinya tidak sulit dibuat seperti ini.
Bagaimana dengan tulisan bertema tutorial atau yang membahas hal-hal teknis lainnya ? Untuk tulisan bersifat teknis seperti itu, yang isinya relatif baku, pokok materi memang harus dijaga tetap jelas. Jika diinginkan, makna lebih dalam bisa disampaikan dalam pengantar materi pokok. Atau bisa juga diuraikan di akhir tulisan.
Menghadirkan rasa.
Tulisan anda bisa saja penuh makna, tapi terasa kering kerontang. Mirip membaca buku petunjuk penggunaan mesin cuci. Begitu formal dan kaku. Tapi beberapa orang menyukai bentuk penulisan seperti itu untuk menjaga kesan profesional dan berwibawa. Tidak salah, masing-masing punya gaya dan alasan.
Semasa masih bekerja, saya kenyang membaca buku-buku manual perangkat yang demikian kaku tanpa jiwa. Untuk tulisan jenis tersebut, hal itu diperlukan untuk menghindari kesalahan penafsiran. Dalam hati saya berpikir, mungkin bagus juga kalau tulisan jenis begitu dibuat rada slengekan. Akhirnya saya cobakan ke para staf saya. Eh, ternyata lebih menarik buat mereka. Mungkin kebetulan saja ya karena sama “gila”nya ?!
Untuk menghadirkan rasa, saya memang memilih cara penulisan yang lebih akrab, informal, dan tidak tabu untuk berhaha-hehe. Saya juga berupaya menghindari bentuk semacam cheklist. Sebagai contoh artikel saya tentang blog bagus blogger yang baik.
Di artikel tersebut bisa saja saya menguraikan bahwa blog yang bagus adalah a, b, c, d. Dan blogger yang baik adalah yang memiliki karakter 1, 2, 3, dst. Tapi saya memilih cara lain, memilih gaya bercerita. Dengan cara itu, saya bisa lebih menghadirkan “rasa” disana.
Menghadirkan gaya.
Gaya seperti apa maksudnya ? Yang petantang-petenteng pake topi kotak-kotak itu ? Hehe, bukan dong ! Yang saya maksud gaya tulisan seperti yang diperagakan para senior. Gaya kalem dan terinci seperti tulisan FM, atau gaya meletup-letup model AS, bisa juga gaya agak urakan tapi cerdas seperti milik MH.
Gaya seperti apa tulisan saya ? Sobat pembaca semua yang bisa menilainya. Tapi sungguh deh, saya berusaha punya gaya dalam menulis. Entah kesampaian entah tidak. Kalau sobat tahu, tolong disampaikan via komentar ya !
Tiap blogger bisa membangun gayanya sendiri-sendiri dalam menulis. Pada awalnya mungkin masih mirip daun kering terapung, terombang-ambing mengikuti gaya orang lain. Namun, dengan ketekunan dan semangat kuat untuk terus berlatih, kegembiraan dalam menulis segera didapat. Gaya menulis pun terbentuk dengan sendirinya.


kalo menurut saya, gaya tulisan mas Heri memang sejenis dengan tulisan para jurnalis, cukup rapi dan enak dinikmati
sukses mas
masih perlu banyak belajar utk sampai ke tingkat itu mas
salam sukses juga buat kontesnya
klo menurut saya, gaya menulis pa’e tuh elegan,,,tertata rapi dengan beberapa bumbu perasa berupa kalimat perandaian….
terlihat seperti itu ya mas ? makasih evaluasinya, saya coba pelajari dan renungi
Wah kalo melihat tulisan ini,, Tulisan mas sangat rapi,,, Gaya apa ya?? Gaya kupu-kupu kali ya,, hehehe
yg rapi biasanya gaya bebek baris mas…
Tulisan Kang Heri bergaya Air Pegunungan
Mengalir alami, jernih menampakkan makna, dan mampuh menyirnakan dahaga
wah, bisa bikin pabrik air dalam kemasan Kang….
nuhun Kang, meni puitis komentarna
Sungguh mencerahkan
Empat hal yang diuraikan di atas makin membuka wawasan saya tentang ihwal menulis. Yang saya lakukan selama ini cenderung menyelami rasa, dan belum menyentuh unsur lainnya.
Kalau disuruh menilai gaya tulisan artikel ini, saya ngga bisa mengucap kata-kata, selain mengangkat dua jempol saya ke udara
Salam kenal Mas Heri!
kadang salah satu lebih dominan, hal biasa mas. mari kita sama2 berlatih terus agar semakin lengkap
salam kenal kembali mas Darin
Gaya tulisan itu kadang si penulis juga tidak tahu gimana gayanya kan mas???, saya sendiri suka menulis tapi g tahu harus di gimanain lagi supaya membentuk gaya tersendiri.he..he,,
coba ditunggingin mas, mungkin lebih kelihatan…..
hehe…guyon mas. maksud saya perlu dilihat dari segala sisi plus minta kritik dan pendapat kawan utk bahan evaluasi
tulisan pa Heri ini bergaya cerdas tapi tetap dalam bingkai kesederhanaan. ibaratnya bu kek siansu dalam cerita kho ping kho…hehehe
udah lama banget gak denger nama itu,
tapi yg bener aja Kang, itu kan yg sering dijuluki manusia setengah dewa ? padahal saya kan setengah tuwa, hehe…
komentar saya kok gak ada ya ?
enggak ada yang tertangkap tuh mas…
ulangi aja deh kalau sempet
Ternyata menulis juga punya gaya. .tak kirain berenang aja
kalau tulisan Akang sih menyejukkan hati pembaca dan membawa makna tersendiri. . .
Kalau tulisan saya kek gmana ya? Masih awut2an soale
Sepertinya artikel ini merupakan penjabaran lebih lanjut dari sebuah komentar yang pernah Pak Hery tuliskan di salah satu posting blog saya. Kalau tidak salah pada posting tentang wacana mengambang dan normatif.
Menurut saya, tips di atas cocok untuk diterapkan pada semua jenis tulisan blog. Termasuk tutorial sekalipun. Lebih pas lagi jika diterapkan pada tulisan model essay atau opini.
mampir bentar ya gan.. dah pindah rumah kan?
[...] mengikuti konsep ideal saya dalam menulis, sesuai topik yang saya tentukan tanpa mempedulikan apa keywordnya. Konsep ideal tersebut pernah saya sajikan di tulisan tentang tata cara menulis. Biarlah kata kunci tersebut [...]
[...] sebagaimana pernah saya tulis sebelumnya di artikel tentang tata cara menulis. Dan jelas hal ini dipengaruhi oleh kondisi pendengar tersebut. Siapa [...]