Apa yang akan saya sampaikan ini bukan pendapat ustadz saya, atau pun seorang ahli agama. Hanya ungkapan hati seorang kawan yang disampaikannya pada Ramadhan tahun lalu sebelum saya mulai ngeblog. Saya tidak akan menilai dari sisi benar atau salah, hanya sekedar perenungan memasuki hari pertama Ramadhan. Dengan harapan agar kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan ini semakin meningkat.
Ungkapan kawan saya beranjak dari keprihatinan melihat pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan yang cenderung makin bersifat seremonial, kehilangan esensinya, yang sebenarnya amat besar manfaat sosialnya. Mungkin ada seberkas tanya di dirinya, mengapa Ramadhan semakin semarak namun jiwa sosial tidak terlihat meningkat. Kehidupan individualis dan mementingkan diri sendiri justru semakin tebal tampaknya.
Dia juga mempertanyakan, mengapa bulan yang dimaksudkan sebagai bulan untuk pengendalian hawa nafsu justru menjadi moment untuk memanjakan hawa nafsu dengan makanan-makanan yang istimewa dan diada-adakan. Wah, untuk yang ini saya agak tersindir. Jujur saja, budget untuk keperluan itu memang selalu meningkat di bulan Ramadhan. Apakah anda tidak ?
Akhirnya, kawan saya tersebut secara guyon mengungkapkan pikirannya, bahwa sepertinya ada dua cara orang memandang bulan Ramadhan ini. Inilah ungkapannya tersebut.
Ramadhan sebagai bulan penuh bonus pahala.
Cara pandang ini memiliki target utama berupa peningkatan tabungan bonus pahala. Orang dengan cara pandang ini teramat sangat gembira menyambut bulan Ramadhan, hingga merasa perlu menyelenggarakan pawai arak-arakan dengan sangat meriah. Orientasinya adalah meraih bonus pahala sebanyak-banyaknya bagi dirinya, namun sikapnya lebih mirip orang menghadapi bulan diskon di supermarket.
Untuk mencapai targetnya, ia bersedia mengubah banyak kebiasaan hidup, seperti kedisiplinan waktu dalam sholat, cara berbicara, termasuk cara berpakaian. Banyak hal dijalankan sesuai aturan dengan anggapan cara tersebutlah yang menjamin diperolehnya pahala berlipat ganda. Setelah sebulan berlalu, semuanya kembali seperti sediakala.
Saya melihat tidak ada yang salah dengan hal ini. Kita meyakini bahwa semua amal kebaikan yang dijalankan di bulan suci ini mendapat pahala berlipat ganda. Dan wajar jika kita sebagai manusia berlomba-lomba untuk meraih pahala tersebut. Masalah kualitas penjiwaannya kita tidak pernah bisa tahu.
Namun harus saya akui, memang terasa ada sesuatu yang kurang sreg di hati. Namun saya agak sulit menggambarkannya. Mungkin pembaca lebih mengetahuinya.
Ramadhan sebagai bulan pelatihan.
Cara pandang ini memiliki target utama melakukan perbaikan diri. Orang dengan cara pandang ini menyadari kemampuan pengendalian diri telah menipis, sehingga perlu masuk pelatihan lagi untuk bekal menjalani hidup setahun berikutnya. Menyambut gembira layaknya mau masuk pelatihan dan akan ditambah kemampuannya. Bonus pahala dianggap sebagai bentuk insentif dan penyemangat karena beratnya masa pelatihan tersebut.
Karena tujuan utama untuk pengendalian diri maka dia tidak punya masalah dengan peningkatan budget. Pengeluaran harian berkurang karena belanja rutin berkurang. Ibadah dilakukan dengan pendalaman makna sehingga nyambung dengan kehidupan sosial sehari-hari. Setelah sebulan berlalu, terlihat perbedaan kualitas diri layaknya telah lulus pelatihan.
Disiplinnya meningkat, kepedulian kepada kaum duafa semakin tinggi, dan perilaku sosial kemasyarakatannya semakin baik. Dan saya kira pembaca sepakat bahwa cara pandang seperti ini lebih bermanfaat. Dengan demikian bulan Ramadhan bukan saja bulan penuh barokah bagi dirinya pribadi, namun juga untuk orang lain di sekitarnya dan masyarakat pada umumnya.
Saya sadar ungkapan kawan saya di atas terkesan memilah-milah, terasa agak sinis dan agak mengandung prasangka. Namun saya mencoba mengambil intisarinya sebagai bahan renungan dan introspeksi diri. Semoga pembaca semua juga bisa mengambil manfaat darinya.


Banyak artikel yang terbit yang membahas tentang “selamat datangnya bulan Ramadhan”, tapi percayalah mas, sampai detik ini saya tulis komentar ini, hanya artikel ini yang benar-benar saya baca. Karena pasti akan dibahas dari sudut pandang berbeda !
dan benar saja ! ^_^
tapi yang paling buruk menurut syaa adalah orang yang tidak memandang Ramadhan tidak sebagai bulan diskon, dan tidak juga sebagai bulan training.
Hanya bulan yang sama seperti bulan yang lain…..,
Itu yang paling merugi buat saya pak.
haha, itu yg paling rugi memang. Lebih rugi lagi kalau cuma sibuk nyiapin lebaran dan ibadah ramadhannya diabaikan. Nyiapin hidangan khusus, pakaian baru, jalan-jalan, tekor dah….
Ramadan memang seharusnya menjadi momen untuk “menggodok” jiwa kita agar lebih peka, lebih meningkat kualitas takwa yang hakiki. Takwa yang terimplementasi dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Namun, saum Ramadhan hanya akan menghasilkan efek yang dahsyat jika semua komponen, mulai hati, lisan, dan prilaku secara sadar dan terpelihara menjalankannya
===
Semoga kita bisa untuk itu Kang. Amin!
Amin, Kang. Mari kita sama-sama berupaya memperoleh efek dahsyat tersebut.
Nepangkeun abdi urang basisir laut kidul Kang
urang basisir nu suka cerita-cerita ? tos ke tkp Kang
kalau misalnya puasa atau ibadah2 yang lainnya tidak harus mengumpulkan hadiah / pahala , dikerjakan dengan hanya ingat akan , sudah kewajiban / keharusan supaya badan kita tetap menjadi sehat . dan tetap patuh atas perintah sang pencipta Allah aja wa jallah .
mungkin mirip orang bekerja rajin, karena iming-iming jabatan atau karena sadar kewajiban, atau karena keduanya.
ini fenomena pak, lebaran tiba, belanjapun menggila!
ada baiknya kita mulai menggali dan mengisi jiwa dengan hal-hal lain yang tidak pernah dilakukan sebelumnya..
met puasa pak. maaf lahir bathin yah.
sama-sama mas, maaf lahit batin. Semoga kita tidak terbawa menggila.
Semoga ramadhan ini dapat kita maknai dengan sebaik-baiknya..
Amin. Mudik ke Plampang lagi mas ?
ramadhan tiba, banyak yang memberi makna berbeda. Namun, kembalikan lagi kepada masing2 untuk mengambil pilihan. Karena bagaimanapun kita sudah diberi akal budi untuk berpikir. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang muslim….
makasih bang
Intisari dari puasa adalah sabar. Sabar secara fisik dan ruhani. Namun di samping unsur religi, ada unsur2 budaya yang membuat bulan ramadhan menjadi fenomena yang terjadi saat ini.
Ada tidaknya efek shaum ramadhan buat diri kita, mari bermuhasabah.
perlu bikin neraca Kang ?
Salam kenal,
selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan
Semoga jalinan silahturahmi tetap terjaga
Wassalam
makasih, salam kenal kembali
Puasa ramadhan telah tiba…
Semoga aktif berpuasa…
Hingga bisa menikmati saat berbuka…
Jika sudah setengah jalan…
Moga tidak disilaukan…
Dengan mementingkan…
Belanja pakaian…
kalau jualan pakaian enggak apa2 kan Kang ?