Kalau melihat anak saya yang juga anak SMP, dan membandingkannya dengan dia, sungguh sulit untuk mempercayainya. Bagaimana tidak, anak SMP yang demikian cantik dan manis itu, dengan wajah mungil tanpa dosa, tapi telah berani…. ah, anda pun akan sulit mempercayainya. Kenyataannya itu memang telah dilakukan Nunik, anak SMP kelas dua, yang saya kenal betul siapa orang tuanya.
Berbeda dengan anak saya yang relatif selalu ditunggui orangtuanya, Nunik lebih banyak diasuh oleh neneknya. Kedua orang tuanya bekerja. Ayahnya sering bertugas keluar kota, sedangkan ibunya bekerja seharian. Hanya malam hari Nunik bisa bertemu sang Ibu, itu pun sudah dalam kondisi lelah.
Saya tidak ingin menerka-nerka apakah Nunik cukup memperoleh perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Tapi hal positif yang saya saksikan adalah bahwa meskipun masih anak SMP, Nunik terlihat lebih mandiri. Ia sudah terbiasa memikul tanggung jawab mengurus rumah bersama neneknya dan tidak asing dengan segala pekerjaan rutin di rumah.
Saya mengetahui semua itu karena kadang istri saya bercerita tentang kemandirian Nunik bila kami sedang berbincang tentang pendidikan anak-anak kami. Ternyata ada juga manfaat positifnya bila seorang anak tidak banyak diasuh orang tuanya. Tidak manja, dan lebih mampu mengurus dirinya sendiri.
Mungkin karena sudah biasa bekerja itu juga sehingga tubuh Nunik pun relatif lebih tampak besar dibanding usianya. Juga padat dan berisi, agak kontras dengan wajahnya yang mungil. Tanda-tanda seorang wanita yang beranjak remaja sudah tampak pada anak yang masih SMP ini.
Itulah Nunik, anak SMP yang baru-baru ini telah membuat heboh orang sekampung. Peristiwanya sendiri terjadi di tengah hari bolong, saat orang-orang baru saja melaksanakan sholat dzuhur. Keheningan mendadak dipecahkan oleh suara orang berteriak-teriak minta tolong. Kontan warga yang ada di rumah berhamburan keluar mencari sumber suara.
Orang-orang terkejut tidak alang kepalang menyaksikan seorang gadis remaja berdiri dengan sebatang besi berlumuran darah di tangannya. Dan gadis itu adalah Nunik, anak SMP yang saya ceritakan di atas. Tak ada air mata di wajahnya, hanya bibir bergetar dengan pandangan mata yang sulit untuk digambarkan. Tampak bahwa dia baru saja mengalami hal yang amat luar biasa.
Setelah jeritan minta tolongnya membuat orang berkumpul, kini Nunik hanya bisa mengucapkan kata “tolong Nenek saya….!” sambil mengacungkan tangan ke arah rumahnya. Kaum lelaki segera bergegas memasuki rumahnya dan terbelalak disuguhi pemandangan mengerikan.
Seorang lelaki tampak tergeletak pingsan dengan sebagian kulit wajah melepuh dan kepala berlumuran darah. Sang nenek yang dicari-cari ternyata tergeletak tak berdaya dengan tangan terikat dan mulut disumpal. Segera orang-orang menolong si nenek yang pucat pasi hampir pingsan.
“Nunik…mana Nunik…?”, terdengar suara amat pelan dari mulut si nenek, terlihat amat mengkhawatirkan kondisi cucunya. Orang-orang segera menenangkan hati si nenek dengan mengatakan bahwa Nunik tidak apa-apa. Mereka segera memberinya minum dan membaringkan di tempat tidur.
Setelah kondisi tenang, barulah semuanya jelas. Lelaki yang pingsan berlumuran darah tadi ternyata adalah pencuri yang akan menggerayangi rumah Nunik dan neneknya. Kemungkinan si pencuri sudah mempelajari keadaan dan mengetahui bahwa hanya seorang nenek dan seorang gadis kecil anak SMP yang ada di rumah. Kondisi tengah hari memang biasa sepi karena kebanyakan orang ada di dalam rumah.
Si pencuri tidak menduga bahwa setelah berhasil menaklukan si nenek tanpa ribut-ribut, dia akan menghadapi perlawanan berat dari seorang anak SMP yang tangguh. Nunik yang sedang di dapur terkejut mendengar rintihan neneknya di ruang tengah. Dengan tangan masih memegang gayung berisi air panas yang sedang dituangnya ke termos, Nunik melongokkan kepalanya ke ruang tengah.
Betapa terkejutnya ia melihat seorang lelaki garang mendatanginya dengan sebilah pisau mengancam. Secara refleks dia siramkan air panas di gayung ke wajah lelaki itu. Karuan saja lelaki itu berteriak kesakitan. Dan bukan itu saja, tangan Nunik segera meraih potongan besi ganjal pintu yang tersandar dekat pintu dapur, dan dengan sekuat tenaga dia pukulkan ke kepala lelaki yang sedang kesakitan itu.
Rasa khawatir akan nasib sang nenek telah memunculkan keberanian yang entah dari mana datangnya. Takut si lelaki asing tadi bereaksi, Nunik segera berlari keluar rumah mencari pertolongan. Dan suara jeritannya itulah yang tadi didengar oleh orang-orang.
Pencuri tadi pastinya tidak sendirian. Setidaknya ada kawan yang menunggu di kendaraan, dan memilih kabur meninggalkan kawannya setelah Nunik berlari keluar minta tolong. Demikian analisa Pak Polisi yang datang beberapa saat kemudian. Sangat masuk akal !
Nunik ! Hm…., betul-betul anak SMP yang pemberani dan tangguh !
Nah, sobat ngeblog, cerita ini cuma cerita fiksi belaka, diilhami pengalaman nyata seorang teman beberapa tahun lalu. Ditulis untuk memenuhi pesanan dari sobat ngeblog Kang Udin Hamd yang sedang ikut aktif membersihkan keyword SMP.


[...] Read More… [...]
wah hebat mahir sudah membuat fiksi mini ,hampir saja aku terkecoh . Minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin ,sobat barangkali terlanjur khilaf. salam dari kampung blilir.
baru hampir kan mbak, belum terkecoh beneran. Sekedar mengingatkan kalau pencuri saat ini sudah banyak yg nekat. Waspadalah…
kirain beneran pak
tapi cerita dan maksudnya bisa mewakili tujuan membersihkan keyword nakal tentang anak SMP.. Selamat pak!
terimakasih mas Fadly
astaga.. tak kirain beneran pak hehehe.. btw ternyata keyword smp sekarang ini banyak negatifnya ya
iya nih, ingin ikut partisipasi membersihkan, meski kemampuan masih terbatas.
Asumsiku membaca dengan mimik serius ini karena mengira pasti pak suara kelana gak sedang ngebanyol. Pasti beneran yang bertepatan dengan keyword SMP, namaun ternyata dan ternyata kecele’ semua
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
untung saya nggak ngeliat langsung mimik seriusnya mas. Sorry ya mas, tapi fakta yg jadi dasar cerita nggak jauh berbeda. Lebih baik kita lebih berhati2 dengan kenekatan para pencuri saat ini.
Ehm…rupanya saya di awal2 cerita juga ikutan ketipu alurnya dgn asumsi yg macem2.
Nggak tahunya kalo endingnya kek getu…:D
:thumbup
berarti respon sampean sudah sesuai dengan yg saya ingini, hehe…
seru dan menegangkan. tapi koq ga ditaruh di blog cerita fiksi
unsur kejutannya hilang dong, kan biar yg biasa nyari kw anak smp mo ngebaca. (mimpi, kayak bisa nongkrong di halaman depan aja, hihi….)
waduh kalo baca awal artikel jadi ingat waktu saya kecil tinggal sama nenek di kampung dan nemenin nenek seharian di pasar jualan sayur
kalo akhir ceritanya ngeri juga ya wkwkwkwk bukan pemberani tapi GANAS ! wkwkwkwkk
Ganas ? ugh, kalau pandangan yg sesama anak smp gitu ya ?
eh iya ya, mas Arief kan dulu pernah tinggal sama nenek juga ya
ceritanya seru banget mas. kalau divideokan seru kali ya….
mas hery sukses mengelabui kita semua
lagi nunggu produser yg berminat mas, hehe…. maaf ya
cerita yang menarik pa’e…..
saya kira berani dalam hal apa ternyata dalam menggebuk kepala dari si pencuri…..
uia sebelumnya mohon maaf lahir batin yo pa’e….maaf untuk segala salah yang telah saya ciptakan
daripada berani yg enggak2, kan mendingan berani yg kayak gitu mas.
Ya mas Eko, maafkan juga kesalahan saya ya
mulai sekarang saya tidak ingin terlalu terjerumus dalam penipuan perhatian fokus saya pada alur cerita yang begitu bisa terasa seru !
mosok sih terjerumus mas ? itulah makanya diperlukan kehati-hatian
gurakrak !!! itu ceritanya kata “terjerumus” menceritakam betapa , saya selalu deg-degan saat membaca artikelnya dari pertama dan berkata : “hufffff ternyata fiksi “
Asyi ceritanya Kang! Keren!!!
anak smp sekarang kan memang keren2 Kang, beda dengan jaman baheula, hihi…
wah, saya terkesima…
dan saya ter…rimakasih
Wah Nunik anak SMP yang hebat..
hehe, paling nggak ya lebih hebat dari pencurinya kan ?
kurang perhatian ortu juga berbahaya ya pak?
biasanya begitu
matursuwun pak, saya sudah ketipu, diawal cerita begitu menggebu2 nya saya membaca tulisan ini, dibelakang sempat kecewa karena ternyata cuma fiksi. Hebat njenegan pak!!! (oh ya maaf linknya sdh tak pasang, maaf ya pak pasange telat)
sekedar tombo stres mas Andrik
suwun yo mas…
Ceritanya mantab sob, sampai terbawa emosi….sampai di tulisan yang terakhir…. fiuuh….
[...] bukan penggemar fanatik jenis aliran musik tertentu. Sewaktu masih SMP dulu saya suka musik pop Indonesia, terus ditambah dengan pop Barat saat SMA. Lagu-lagu sealiran [...]