Feeds:
Tulisan
Komentar

Topik tentang cara mendidik anak merupakan topik yang luas. Jika anda mencoba membaca pendapat para ahli, ada banyak sudut pandang tentang cara mendidik anak yang baik. Pilihan materinya pun sangat beragam. Ada yang membahas tentang cara mendidik anak dari sisi kecerdasan berpikir, ada pula yang menyoroti masalah budi pekerti.

Biarlah itu menjadi pembahasan para pakar. Saya hanya akan mengambil satu topik kecil, yaitu tentang cara menghukum anak pada saat melakukan kesalahan. Rekan saya mas Fadly Muin pernah juga menulis tentang ini dengan judul Haruskah Marah Dan Menghukum Anak. Ya, sebagaimana kita memberi hadiah pada saat anak menciptakan prestasi, kita pun seyogyanya memberi hukuman padanya saat melakukan kesalahan. Tujuannya agar anak tahu bahwa yang dilakukan tidak baik dan tidak benar.

Meski kebanyakan sepakat tentang itu, cara melakukannya bisa menjadi sangat beragam. Masing-masing punya teorinya sendiri, masing-masing memiliki cara yang dianggapnya paling benar. Tiap orang bisa berbeda pendapat dalam prakteknya. Tidak terkecuali saya dan istri saya. -baca selengkapnya>

putri ayu - klantinkKalau saya tulis Putri Ayu dan Klantink cukup layak untuk menjadi juara bersama, hal itu bukan bermaksud mengacaukan aturan yang berlaku di ajang IMB. Bukan juga untuk melemahkan semangat mereka berdua yang sedang bertarung memperebutkan posisi pertama. Ini semata karena saya merupakan penggemar Putri Ayu, sekaligus juga penggemar Klantink. Boleh kan ?

Ada dua alasan mengapa saya menganggap mereka berdua layak sebagai juara bersama. Pertama, mereka berada pada jenis kemampuan yang berbeda. Putri Ayu adalah penyanyi, sedangkan Klantink cenderung lebih sebagai pemusik. Rasanya kok seperti membandingkan bagus mana Honda atau Toyota.

Alasan kedua, saya sangat menikmati setiap kesempatan mereka melakukan kolaborasi atau duet. Coba simak penampilan mereka saat membawakan lagu Kala Cinta Menggoda, Galih dan Ratna, atau Semusim. Lebih cocok dan asyik rasanya kalau mereka berada dalam satu grup. -baca selengkapnya>

hadiah kontes menulis

Pose dengan hadiah di tangan dan tanaman dollar di sisi, biar jadi dollar sungguhan.

Ini ketiga kalinya saya posting tentang hadiah kontes menulis. Mungkin agak membosankan buat sobat pembaca, tapi untuk memenuhi permintaan mas IwanKus maka mohon kiranya sobat bisa menyingkirkan sejenak kebosanan tersebut. Enggak banyak-banyak kok, paling juga 10 halaman plus 10 foto narsis, hehehe…

Hadiah kali ini termasuk lumayan berat dalam “menikmatinya”. Seperti anda ketahui, hadiah juara-2 Kontes Menulis Blog IwanKus.com terdiri dari tiga item. Mengapa saya katakan berat ? Mari kita lihat satu persatu !

Hadiah pertama adalah Paket Premium Cafe Bisnis nya mas Lutvi Avandi. Sebuah hadiah yang sarat pelajaran berharga, sehingga karena sarat itulah maka terasa berat untuk menyerap ilmu di dalamnya. Meski sudah download 2 ebook wajib dan kemarin saya terima CD-nya, jujur saja belum satu pun saya membacanya. -baca selanjutnya>

Dua kali postingan saya berturut-turut berbicara tentang musik dan lagu. Hal ini bukan tanpa alasan. Musik dan lagu memang menempati posisi khusus dalam hidup saya, dan saya rasa juga buat banyak orang lainnya. Ada yang bilang musik memperlembut jiwa, lagu menambah peka rasa.

Khusus untuk musik klasik, yang pernah saya baca malah memiliki pengaruh kepada kecerdasan seseorang. Jika ibu hamil sering memperdengarkan musik klasik sejak anak masih dalam kandungan, katanya si anak kelak akan memiliki kecerdasan istimewa. Nah, buat anda keluarga muda mungkin bagus juga jika hal ini menjadi salah satu terapi saat anda atau istri anda mengandung.

Mengenai manfaat musik klasik tersebut, pertama kali justru saya ketahui dari kawan lama saya Kang Aas Maesyanurdin pemilik blog kotakasa, sewaktu masih satu kota dan satu kantor dulu. Kebetulan saat itu istri Kang Aas sedang mengandung anak pertama. Infonya terlambat buat saya karena anak bungsu saya terlanjur sudah balita. Waktu hamil dulu malah lagu dangdut yang sering diperdengarkan, hehe… -baca selengkapnya>

Anda tahu apa itu klantink ? Ya, nama sejenis penganan kecil. Tapi klantink yang ingin saya bicarakan ini adalah sebuah grup musik pengamen jalanan yang kini ada di grandfinal ajang Indonesia Mencari Bakat. Sudah lama niat menulis tentang Klantink, baru sekarang kesampaian.

Saya mengikuti acara IMB sejak awal karena kesengsem sama Klantink dan Putri Ayu. Kebetulan keduanya kini masuk ke grandfinal, berarti enggak salah pilihan favorit saya. Jika ketertarikan pada Putri Ayu karena mengingatkan kepada penampilan Sarah Brightman dan Celtic Woman, kesukaan pada Klantink karena karakter musik yang dibawakannya.

Dasar musik kroncong yang diusung Klantink memang tidak asing buat telinga saya. Namun bukan itu yang membuat saya suka. Jika musik kroncong umumnya memiliki kesan tenang dan mendayu-dayu, kroncongnya Klantink terasa lebih dinamis dan berisi kegembiraan. Lagu apa pun yang dibawakan selalu membuat tubuh ingin ikut bergerak.

Lagu-lagu lain yang dibawakan ulang dalam kemasan kroncongnya Klantink menjadi begitu berbeda citarasanya. Saya jadi teringat kepada penyanyi Sarah Vaughan. Fever-nya Peggy Lee menjadi lagu yang bisa menggoyang tubuh saat dinyanyikan ulang olehnya. Atau simak bagaimana kerennya saat Something-nya The Beatles dinyanyikan ulang oleh penyanyi hitam ini. -baca selengkapnya>

Beli buku jelas harus modal duit, sedangkan pinjam buku paling juga modal ngomong. Tapi pinjam buku pasti terbatas waktunya sehingga harus cepat dibaca, sedangkan beli buku bisa lebih bebas kapan mau membacanya. Begitu juga pinjam buku berarti tidak bebas mencorat-coret atau menandai, sedangkan beli buku berarti bebas buku itu mau diapakan.

Buku yang saya maksudkan disini adalah buku cetak ya, buka e-book. Karena kalau e-book tentunya tidak ada istilah pinjam. Yang ada cuma berbayar atau gratisan.

Kalau mau dijabarkan lebih lanjut, saya rasa akan banyak lagi perbedaan antara beli buku dan pinjam buku. Tapi tulisan ini buka dimaksudkan untuk membuat database tentang perbedaan kedua hal tersebut, jadi cukup segitu dulu deh. Lebih baik kita bicarakan tentang mana yang lebih baik. baca selengkapnya

Kalau melihat anak saya yang juga anak SMP, dan membandingkannya dengan dia, sungguh sulit untuk mempercayainya. Bagaimana tidak, anak SMP yang demikian cantik dan manis itu, dengan wajah mungil tanpa dosa, tapi telah berani…. ah, anda pun akan sulit mempercayainya. Kenyataannya itu memang telah dilakukan Nunik, anak SMP kelas dua, yang saya kenal betul siapa orang tuanya.

Berbeda dengan anak saya yang relatif selalu ditunggui orangtuanya, Nunik lebih banyak diasuh oleh neneknya. Kedua orang tuanya bekerja. Ayahnya sering bertugas keluar kota, sedangkan ibunya bekerja seharian. Hanya malam hari Nunik bisa bertemu sang Ibu, itu pun sudah dalam kondisi lelah.

Saya tidak ingin menerka-nerka apakah Nunik cukup memperoleh perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Tapi hal positif yang saya saksikan adalah bahwa meskipun masih anak SMP, Nunik terlihat lebih mandiri. Ia sudah terbiasa memikul tanggung jawab mengurus rumah bersama neneknya dan tidak asing dengan segala pekerjaan rutin di rumah. -baca selengkapnya>

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.