Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Transformasi Diri’ Category

Beberapa kali saya menulis komentar di blog tetangga tentang perlunya memberi fokus hanya pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Jangan justru teralihkan perhatian dan enerji kita memikirkan hal-hal yang memang di luar kendali kita. Dan saat saya membaca buku karangan Mary Whelchel yang berjudul “Bagaimana Tetap Bertumbuh Berkembang Dari Jam 9 Pagi Sampai Jam 5 Sore”, saya mendapatkan topik bahasan yang sama pada salah satu babnya.

Sudah menjadi kebiasaan banyak orang untuk memberikan “perhatian besar” kepada orang lain dibanding kepada diri sendiri. Khususnya bila timbul suatu permasalahan. Tidak heran jika pembicaraan bertopik : atasan di tempat kerja, suami/istri di rumah, tetangga di masyarakat, merupakan topik hot yang mengasyikan untuk dibahas.

Topik-topik tersebut termasuk kepada hal yang di luar kendali kita. Apa saja sih rinciannya? Nah, ada empat hal yang biasanya tidak bisa dikendalikan. -baca selengkapnya>

Read Full Post »

tanaman puringSuatu sore, sepasang suami istri berdebat tentang tanaman puringnya.
Karena batang pohon tumbuh langsing tanpa cabang, si istri menghendaki batang tersebut dipotong agar kelak muncul banyak tunas baru sehngga pohonnya bercabang. Sedangkan sang suami melarangnya, khawatir pohonnya mati. Tokh belum tentu tunas yang muncul nantinya akan banyak sehingga bercabang-cabang, kilah sang suami.

Sobat pembaca, sesungguhnya apa yang sedang mereka perdebatkan ? Mereka sedang memperdebatkan istilah “belum tentu”. Ya, belum tentu ! Karena tidak ada yang bisa memastikan apakah kelak akan muncul banyak tunas bila batang puring itu dipotong. Setidaknya mereka berdua tidak tahu.

Sama-sama belum tahu tetapi mereka berdua berbeda dalam cara menyikapinya. “Belum tentu” telah menghentikan langkah sang suami untuk mengambil tanggung jawab bertindak. Sedangkan bagi sang istri, “belum tentu” malah mendorongnya untuk bertindak. Karena berarti masih ada peluang.

Kasus “belum tentu” ini muncul dalam beragam penjelmaan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Sobat sekalian pasti dengan mudah mencari contoh-contohnya. Atau bahkan pernah mengalaminya. Bagaimana sikap sobat menghadapi kasus seperti ini ? Silakan sharing saja di kotak komentar.

Read Full Post »

Ternyata bukan hanya komentar saja yang bisa nge-junk atau bernada spam, jawaban komentar pun bisa. Contohnya jawaban komentar saya di artikel saya sebelumnya “Sarana Atau Penjara ?” Coba lihat deh ! Tapi suer, bukan maksud saya untuk nge-junk, tapi karena saya berniat menulis topik tentang balasan terhadap komentar di postingan kali ini.

Maksudnya sih biar sekalian bisa dijadikan contoh. Gimana sih rasanya kalau dijawab dengan cara standar begitu. Barangkali saja ada sobat yang memperhatikan. Dan ini respons saya yang sesungguhnya. Saya ulas sedikit komentar sobat sekalian di artikel tersebut. -baca selengkapnya>

Read Full Post »

berkubang lumpurMo ngapa-ngapain itu jangan nanggung. Yang nanggung itu enggak enak. Jadi kalau memang niat berkubang, jangan takut kotor atau milih-milih mana yang boleh kotor. Berkubanglah hingga penuh lumpur. Ye…nggak ?!

Saya masih ingat ustadz ngaji saya dulu sewaktu masih remaja. Beliau katakan bahwa kalau memeluk Islam itu jangan setengah-setengah, tapi secara kaffah. Menyeluruh. Jangan cuma ambil enaknya, yang enggak enak dan nyusahin ogah.

Sewaktu kecil dulu, kakek saya kerap mengingatkan saya sewaktu saya minta diajari pencak silat berbumbu ilmu kebatinan. Maklum, di desanya dulu beliau adalah jawaranya. Beliau mengingatkan saya kalau mau menekuni sesuatu itu jangan setengah-setengah. Anak jaman sekarang tidak pada tempatnya mempelajari hal-hal semacam itu. Karena bila sudah terjun harus total. -baca selengkapnya>

Read Full Post »

Info pertama tentang update Google PR ini saya dapat dari mas Khalid Abdullah. Katanya blog gratisan ini mendapat PR-1. Wow, yang gratisan seperti ini ternyata masih dihargai juga. Tentu saja saya amat bersyukur, dan tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada sobat-sobat yang telah berkontribusi atas pencapaian ini.

PR-1 tentu saja bukan pencapaian yang hebat. Bila dipandang dari kacamata persaingan memperoleh sesuatu (bila nih ya…), maka ini adalah pencapaian terendah kayaknya, dibanding pencapaian sobat semua . Namun, bila dilihat dari rendahnya upaya saya yang berkaitan dengan pencapaian PR ini, ini pencapaian yang bagus, dan sebenarnya saya agak malu hati. Mengapa demikian ?

Karena hampir tidak ada upaya saya untuk mencapainya. Mendaftarkan blog ini pun tidak, mencari-cari tukeran link juga tidak. Semuanya semata hanya kebaikan hati sobat-sobat saja yang berinisiatif baik memberi backlink kepada blog ini. Nah, kalau dipandang dari kacamata ini, pencapaian PR-1 sungguh membanggakan. Wujud perhatian yang tulus sobat-sobat semua. -baca selengkapnya>

Read Full Post »

afifKemarin pagi saya menegur anak bungsu saya karena kamarnya berantakan. Buku-buku dan mainan berserakan, bantal-guling dan selimut centang perenang enggak keruan letaknya. Selanjutnya meskipun tampak dengan berat hati dan terburu-buru, ia bereskan juga kamarnya. Kecuali satu yang tetap ngelumpruk tidak dibereskan, yaitu dua helai selimut.

Saat saya tanya kenapa selimutnya enggak sekalian dilipat, dia bilang kalau selimut susah bila dilipat seorang diri. Mendengar itu, saya tidak berkata lagi. Saya tahu bahwa memang tidak mudah buatnya melipat selimut. Selama ini biasanya dia dibantu mamanya atau pun kakaknya.

Saya gandeng dia ke kamarnya, sambil berkata : “ Lihat Fif, papa akan melipat selimut kamu. Afif lihat ya !” Lalu saya pun melipat salah satu selimut, tapi hanya menggunakan satu tangan, tangan kiri. Asli susah, maka hasilnya pun jauh dari rapi, namun sudah terlipat. Setelah itu barulah saya berbicara lagi kepadanya. -baca selengkapnya>

Read Full Post »

Percaya enggak, ada yang menemukan blog ini dengan keyword pencarian : “judul lagu dangdut yang di dalamnya ada masak-masak sendiri”. Akhirnya, bertemulah ia dengan artikel saya tentang tim bisnis. Kalau dipikir, apa hubungannya tim bisnis dengan lagu dangdut yang masak-masak sendiri, hehe..

Tapi itulah ! Banyak cara orang menemukan kita. Kadang dengan cara yang tidak kita duga. Namun bukan hanya caranya yang penting diperhatikan sebenarnya, tapi juga dalam kondisi bagaimana kita ditemukan. Apakah dalam kondisi baik atau memprihatinkan. Nah lo !

Sebelum lanjut, perlu juga kita pahami bersama bahwa istilah ditemukan mengandung pengertian sebagai suatu keadaan dimana diri kita pasif. Pihak yang menemukan kitalah yang aktif. Meskipun demikian, pada prakteknya (dan seringnya) proses penemuan ini sebenarnya juga dibarengi adanya upaya aktif dari kita untuk ditemukan. Iya enggak ?! -baca selengkapnya>

Read Full Post »

Older Posts »